Sesuatu Untukmu - Part 2
Cerpen
Part 2
Sesuatu Untukmu
Oleh : xiu Ong
penggalan-penggalan kisah itu bertautan di kepalaku, saling mengikat dan tersusun seperti puzzle cerita yang rapi di benakku. Aku tak mampu memenggal alur otakku mengenang peristiwa itu.
Musim semi. Dihatiku begitu indah dan syahdu. Kepulanganku dari Bandung 5 tahun lalu membuatku bertemu kembali dengan teman SMA-ku. Sosok pria taman pujaan gadis-gadis di sekolah, Ia 2 tahun dibawahku. Sekarang Ia adalah seorang model termahal di Agencynya.
Sebut saja Andrew, siapa yang tak kenal dia. Wajahnya sudah mewarnai hampir semua tabloid dan majalah-majalah remaja dan gosip. Sikapnya yang familiar dan senyum ramahnya pun, mampu membuat fans-fansnya berteriak ingin mencubitnya.
Aku menyaksikan itu ketika secara tak sengaja aku berada di mall tempat Ia sedang jumpa fans. Semula aku tak mengenalinya, namun ketika aku perhatikan, aku merasa sangat dekat dengan wajah yang alisnya terpotong ditengahnya. Aku tersenyum senang dan melambai padanya, sayangnya Ia tak melihatku, aku kalah dengan ratusan gadis belia yang berteriak-teriak memanggil namanya. Akhirnya aku hanya melihatnya dari jauh.
Gadis-gadis tersebut berebutan maju untuk lebih dulu sampai didepan bergilir foto bareng dengan Andrew dan beberapa model lainnya. Aku terdiam ditempatku dan beranjak dari situ ketika kulihat gadis-gadis tersebut semakin histeris menjerit. Aku tersenyum pada diriku sendiri, menertawai kebodohanku berada diantara para penggemar Andrew. Mungkin hanya aku sendiri yang terlihat dewasa, ternyata aku bukan lagi ABG. Langkahku terhenti pada poster jumbo Andrew yang tersenyum untuk salah satu iklan, aku memperhatikannya sesaat, menggeleng pelan lalu kembali melangkah melihat-lihat.
Aku berhenti melihat Coffee Shop didepanku. Aku masuk dan memilih tempat, memesan coffee Robusta dengan cream kental. Hem rasanya daerah penghasil kopi ini benar-benar banyak mengalami perkembangan. Aku membuka-buka buku yang selalu kubawa sebagai bacaan agar tidak bengong, sambil menunggu pesananku datang.
“ Silahkan, ini pesanannya.” Ucap suara tenor padaku.
“ Terima kasih. “ ujarku tanpa mengalihkan mataku dari buku yang kubaca. Pria itu meletakkan secangkir coffee cream tepat di depan wajahku. Aku menarik cangkir itu untuk lebih dekat denganku. Sosok itu masih belum pergi, aku mengangkat wajahku sedikit dan tersenyum tipis.
“ Terima kasih ya. “ ujarku cepat dan kembali menunduk, namun sekilas aku mengangkat wajahku kembali, pria itu tersenyum. Mataku membelalak tak percaya.
“ Andrew. “ ujarku dengan nada terkejut dan senang, Ia tertawa lebar dan merentangkan kedua tangannya. Aku memeluknya, melepas kangen bertahun-tahun tidak bertemu. Ia masih tertawa sampai aku melepas pelukanku.
Comments
Post a Comment