Ketika Detik Itu Berakhir- PART 4
PART 4
Ketika Detik Itu Berakhir
Oleh : xiu Ong
membodohi diriku yang dungu dalam diam, tiba-tiba gadis itu menubrukku menumpahkan tangisnya didadaku, tanganku yang terasa dingin dan kaku membelai punggungnya lembut, merasakan sakit yang sama. Ketika Ia lepaskan dekapan itu, kurasakan debar hangat dan halus mengisi kalbuku. Wajah cantik itu memerah, dan tersenyum getir.
“ Maafkan aku, “ ucapku seperti tercekat, Zischa tersenyum hambar. Ia hanya menggeleng dan menyusut air matanya yang semakin deras dan tak terbendung. Aku memberinya sekotak tissue, untuk Ia keringkan wajahnya. Ponsel Zischa bergetar, nada deringnya membuatku semakin terpukul, Ia masih menggunakan lagu Ungu Kekasih Gelapku untuk NSPnya setelah bertahun-tahun yang harus Ia lewati. Zischa terburu-buru mengambil ponselnya dari mejaku dan sedikit menjauh dariku saat berbicara dengan orang yang menelfonnya. Aku membuang pandanganku darinya, melihat pada ponselku yang sudah menyimpan nomornya, serta memandanginya dengan kosong.
“Terima kasih, aku sangat mengkhawatirkan Kahfi “ ujarnya lirih, Ia tersenyum padaku.
“ Kahfi “ ulangku pelan, Ia mengangguk namun kaget.
“ Maaf, aku harus pergi “ ujar Zischa buru-buru, aku menahan tangannya.
“ Aku antar “ pintaku, Zischa menggeleng dan berlalu. Perasaanku bercampur tidak karuan, Kahfi. Aku terus berfikir siapa Kahfi?. Kegalauan hatiku, membuatku memutuskan mengikuti kemana Zischa pergi, rasa penasaran merajai diriku. Hingga disuatu tempat aku melihat Zischa memeluk balita laki-laki dari paud yang Ia kunjungi. Aku tersentak, kecewa dan tak bergeming menatap lurus penuh luka. Aku tak bisa lagi bersembunyi ketika Zischa memergokiku tengah mengikutinya.
“ Apa yang kamu lakukan Fe? “ wajah itu marah.
“ Membayar rasa penasaranku “ ujarku tajam. Mata Zischa berair, balita dipelukannya menangis karena panas matahari menyengat tubuhnya. Aku menarik Zischa untuk masuk ke mobil, kami terdiam lama sampai balita itu menyebut ice cream, mobilku memasuki tempat parkir di mall dan meminta Zischa untuk turun bersama. Aku tahu Ia enggan, tapi aku ingin melakukannya, kami berjalan ke conter ice cream dan membiarkan balita tersebut mendapatkan ice cream yang Ia inginkan.
“ Kahfi sayang, gak boleh sayang... “ ujar Zischa lembut. Aku terkejut, Kahfi! Mataku bergantian memandang dua manusia dihadapanku.
“ Ini anakku, Fe “ pernyataan itu semakin membuatku tampak kecil, aku berusaha menguasai perasaanku.
Pengarang ; Xiu Ong
FB : Xiu Ong
Instagram : Xiu Ong
Chanel youtube : Xiu Ong
Comments
Post a Comment