Di Hatiku- Part 4
Cerpen
Part 4
Di Hatiku
Oleh : xiu Ong
pembicaraa ditelefon itu Fhion sering mengsmsku, kami berjanji bertemu. Semingu kemudian Fhion menjemputku didepan gedung pemerintahan yang mana aku sedang menjadi tamu dalam seminar Seni dan kerajinan hasil daerah Lampung. Fhion menungguku lima jam sampai aku keluar ruangan, pria muda itu tersenyum manis saat aku medapatiku dihadapannya. Kami pergi ke Mall dan bicara banyak disana, entah apa yang dipikirkannya sampai Ia memintaku menjadi pacarnya saat itu. Ia masih begitu muda usianya tiga tahun dibawahku. Aku merasa geli dan tak bisa menolak, karena akupun merasa ada yang hangat dijiwaku ketika menatap mata coklat milik Fhion, Akupun menyukainya spontan dan tak sempat berdialog dengan akal sehatku untuk mengambil kesepakatan yang tepat dan bijak. Aku terbawa jiwa muda dan halusinasi puberitasku yang terlambat, kami berkomitmen serius dan banyak masalah yang timbul.Fhion banyak mendapat terror sms dan aku sangat takut terjadi sesuatu padanya. Aku ingin menghadapinya bersama-sama dengan Fhion. Namun terror itu menginginkan aku dan Fhion putus. Fhion tidak ingin mengambil resiko dan kamipun putus dalam hitungan hari, aku sangat terpukul dengan kejadian itu. Aku merasa begitu kerdil dan kecil setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi dan tak pernah saling menghubungi satu sama lain Aku konsentrasi dengan pekerjaanku dan Fhion dengan kuliahnya. Vatra menghiburku untuk tidak terlalu bersedih dan Ia tak pernah membahas tentang Fhion. Saat itu perasaan ku mengatakan ada yang tidak baik dengan persahabatan mereka. Tapi aku tidak ingin tahu lebih banyak lagi tentang itu, sampai aku melihatnya sore tadi dipameran buku. Fhion dan pacar barunya juga Fhion yang menatapku tajam saat jumpa fans. Aku ingin melupakannya tidak hanya dihatiku juga dalam lembar masalaluku yang memilukan. Fhion tak berusaha mempertahankan cintanya, karena Ia memang tak mencintaiku hanya terobsesi reputasi yang kumiliki. Aku menyalahkan diriku sendiri atas kelemahanku untuk percaya pada sosok tampan Fhion dan itu adalah kenangan pahit bagiku. Aku sangat lelah buaian masalalu membawaku terlelap dalam alam mimpi, aku tertidur dan tak ingat apa-apa lagi.
“Lu tahu ga ?” terkadang cinta itu gak perlu diucapkan, tapi dimengerti sendiri..” Ucap Metta sok tau. Aku mengernyitkan kening mengolah kata-katanya yang lumayan berat, tak biasanya Metta bisa bicara seperti itu. Mungkin ini pengaruh besar dari pacarannya yang dosen filsafat itu. Baru pacaran beberapa bulan saja mereka sudah mempersiapkan pertunangan.“Gimana brondong lu?” Tanya Metta“Berondong apaan?” ujarku tak mengerti“Alaaaah males deh rahasiaan “, mimik wajahnya menggodaku.“Gue gak ngerti,” ucapku keras. Metta tertawa-tawa, Aku melemparnya dengan boneka babi pink kesukaannya. Aku baru saja menemaninya membeli perlengkapan pertunangannya termasuk memesan cincin ditoko kenalanku dan sekarang istirahat dikamarnya. Memperhatikan Metta yang asik mencoba tiga jenis kebaya dan gaun yang akan dikenakannya saat pertunangan. Aku tersenyum menyaksikan tingkah temanku ini, wajahnya penuh dengan kebahagiaan dan harapan. Aku ingat kata-katanya ketika Ia memutuskankan tunangan dengan Rindra.“Gue gak tahu, gue mencintai Rindra atau enggak, tapi gua ngerti dia lebih baik dari
Comments
Post a Comment