Di Hatiku - Part 5
Cerpen
Part 5
Di Hatiku
Oleh : xiu Ong
gue negrti diri gue sendiri dan gue yakin gue pasti bahagia dengan Rindra”. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Metta saat itu dan sekarang Ia kembali mempora-porangadakan sebagian jiawaku untuk memaknai arti cinta dalam panggung kehidupan. Hapeku berdering riang, Kulihat Vatra memanggil, aku segera mengangkatnya.“Hallo,hallo mba Reyki “, ucap suara Vatra dari jauh“ Iya, ada apa Vat?” ujarku, mata Metta membulat dan memutar menggodaku lagi Ia ikut menaruh telinganya diHp ku dan menyimak..“Mba Reyki, Ibunya Fhion meninggal” suara Vatra tergesa-gesa.“Apaa! Innalillahi, Kapan?” dadaku gemuruh seru.“Tadi pagi, sekarang mau dimakamkan. Vatra masih dirumah Fhion”.“Aku kesana sekarang” ucapku parau. Dan bergegas.“ Vatra tunggu cepat ya Mba ” pembicaraan terputus. Aku tertegun bingung. Metta memelukku dan menguatkan hatiku, aku menangis tanpa kusadari titik cristal-cristal mengaburkan pandanganku.“Pergilah Dimas yang nganter” aku mangangguk nurut. Dimas memapahku dengan lengan yang kuat. Abang Metta ini selalu membantuku disaat sulit, kami sampai tepat jenazah dimakamkan. Vatra mendekat mengajakku menemui keluarga duka, aku menyalami mereka semua dengan perasaan haru yang sama biru meski aku tak pernah sempat mengenal sosok ibu yang meninggalkan mereka. Aku bisa merasakan kepedihan ditinggal seseorang yang sangat berarti dalam hidup.“Hendrick” ucapku tercekat. Pria perawakan tinggi besar putih itupun kaget melihatku.“Reyki” Ia seperti mengeja namaku.“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Fhion yang tiba-tiba sudah ada disebelahku, air muka Hendrick berubah pias wajahnya menampakkan kecemasan.“Kami teman lama” ujar Hendrick terburu-buru. Sikapnya terlihat gelisah. Ia mencari alasan untuk pergi dan menoleh sekali-kali padaku dari jauh.“Mas Hendrick kakak iparku, baru dua bulan yang lalu mereka menikah” Tunjuk Fhion pada Hendr ick dan gadis yang berdiri disebelahnya. Gadis tersenyum dari jauh padaku, aku membalas tersenyum santun.“Terimakasih kamu sudah datang Reyki ” Fhion menggenggam tanganku dengan lembut dan hangat. Sudut matanya mengalirkan airmata, mata cokelat itu bengkak dan sembab. Aku tau Ia bungsu dan dekat sekali dengan ibunya.“Aku turut berduka Fhion” bisikku lirih. Ia menahan tangisnya.“Fhion, maaf aku terlambat” seorang gadis cantik menghampiri kami. Ia memeluk Fhion dan menangis dibahu pria itu, Fhion melepaskan pelukannya.“Gak apa, Ibu baru dimakamkan kok, oya kenalkan ini Reyki”,“Aurel” Ia menjabat tanganku hangat bibir kecilnya mengulas senyum tipis dan manis. Gadis yang kulihat bersama Fhion waktu itu.“Mba Reyki Difo kan ?” Tanyanya antusias, aku mengangguk dan Aurel memelukku erat.“Aku fans mba, senang sekali bisa ketemu aku gak bawa novelnya lagi, aduuh maaf Fhion aku… “ Fhion mengangguk mengerti.“Uhm, kamu bisa main kerumah kalau mau” ujarku menengahi persoalan yang dihadapi mereka berdua.“benerr?”, matanya berbinar meski berair. Aku tersenyum tulus.“ Fhion akan mengantarkanmu, baiklah aku pulang dulu sampaikan salamku pada
Comments
Post a Comment