KETIKA DETIK ITU BERAKHIR- Part 1
Aku hanya mampu menatapi puing-puing reruntuhan hatiku yang menimbun berat badanku dalam detik yang berhenti. Tak pernah kuduga dalam hidupku masa laluku menjadi bumerang untuk diriku sendiri. Empat tahun lalu, aku Federick Ferre. Pria muda usia 27 tahun, menapaki karier sebagai Dosen di Universitas Terpopuler Lampung dengan latar belakang pendidikan S2 ku yang kudapat di Malaysia. Lajang, terpopuler, terfavorit, tampan, mapan, matang, berpendidikan, menarik, dan sexy, itulah aku. Semua mengagumiku, bangga menjadi diriku sendiri.
Tahun pertama aku mengajar adalah hal terbaik yang akan ku ukir kembali ditahun-tahun berikutnya. Dan aku selalu bisa mencapai peringkat dengan pujian untuk mahasiswa-mahasiswa dalam kelasku, jiwa mudaku selalu bersemangat melewati hari-hariku bersama mereka, mereka cantik-cantik, cerdas dan menyenangkan untuk share. Bagiku mengajar mata kuliah, bukan sekedar memberi ilmu pengetahuan ataupun berbagi apa yang aku miliki untuk aku transfer pada mereka, tapi juga mendengarkan pendapat mereka dengan tulus dan ikhlas. Benar aku seorang Dosen, tapi aku juga bisa banyak belajar dari mahasiswaku tentang apa yang tidak aku ketahui, dan mereka ketahui. Tentang bagaimana cara mereka hidup di zaman mereka, dan seperti apa aku hidup dimasa aku mengenyam pendidikanku, dulu. Bagaimana mengajarkan mereka menjadi dewasa, bertanggung jawab dan jujur, tanpa mereka merasa digurui, meskipun aku Dosen mereka. Tanpa mereka merasa tugas adalah beban, presentasi adalah musibah, tugas akhir adalah pencapaian nilai, bukan itu yang aku ingin untuk mahasiswaku. Aku ingin mereka memahami yang aku berikan dengan cara mereka masing-masing, dan ketika akhir semester mereka dapat mencapai yang mereka ingin dengan kemampuan dan nilai yang sebenarnya adalah real hasil mereka, bukan copy paste dari hasil bentukkan ku selama menjadi Dosen mereka, sebab itu aku menyebutnya share. Ditahun ketigaku mengajar, aku memasuki kelas C untuk semester tiga pertemuan pertama dikelas English Syntax.
Mataku menyapu seisi ruangan, kutatap satu persatu wajah-wajah muda penuh gelora dan semangat, mata-mata berbinar penuh cahaya, tampak dari mereka semua. Aku tersenyum pada diriku sendiri. Menyadari, aku pernah memiliki semangat seperti mereka dimasa lalu, sebagai mahasiswa. Aku minta satu dari mereka untuk menyimpan daftar hadir dilaptopku, sementara au menjelaskan tentang mata kuliahku dan peraturan-peraturan yang harus disepakati bersama. Mataku berhenti pada sosok gadis berambut panjang dan legam yang selalu menunduk dan dia pasti tidak memperhatikan aku.
Pengarang ; Xiu Ong
FB : Xiu Ong
Instagram : Xiu Ong
Chanel youtube : Xiu Ong
Comments
Post a Comment