Sesuatu Untukmu - Part 6
Cerpen
Part 6
Sesuatu Untukmu
Oleh : xiu Ong
“ Maaf, aku tidak bermaksud, “ ujar Val
“ Aku tidak ingin membahas ini lagi Val, kalau menurutmu Andrew orangnya, berarti sudah ada jawabannya, Cukup! “ aku mengangkat kedua tanganku.
“ Dengar Oci, apapun itu, siapapun dia. Aku tak peduli, aku mencintaimu dan akan tetap menghadapi siapapun orang yang meneror kita. Aku janji, aku akan melindungi kamu. “ Val membingkai majahku lembut dengan jemarinya yang hangat. Aku tersenyum dan mengangguk lemah. Baiklah, anggap satu masalah selesai, aku akan berfikir sendiri dengan kepalaku. Kami nonton film Superman dan aku merasa semua baik-baik saja, Semoga.
“ Kalau disini kita bakar ikan gak usah pake bumbu mba’ Oci, “ ujar Andrew.
Wajahnya begitu ceria dan agak memerah, pasti karena panas matahari yang menyengat. Andrew masih membolak-balik ikan tongkol yang Ia bakar tanpa balutan bumbu kunyit ataupun air garam. Tadi kami baru saja membelinya dari nelayan-nelayan yang baru sampai kepantai. Lalu mencari tempat untuk membakarnya. Andrew memilih tempat terbuka yang tak jauh dari pantai, nampaknya tempat inipun bekas bakaran, karena terlihat sisa-sisa kayu arang disana. Andrew segera menyalakan api dan menjadikannya arang panas. Lalu dengan kawat kecil Ia jejeri ikan tongkol yang sudah dibersihkan isinya oleh pak nelayan tadi. Membaliknya kalau sudah matang dan menyajikannya untukku dengan daun lebar yang suadah Ia bersihkan. Aku menatapnya tak mengerti, Ia tertawa melihat wajah bingungku.
“ Ini, “ Andrew menyodorkan saus extra pedas dan kecap manis padaku. Lalu memberi contoh dengan mencuil ikan dan membalurnya dengan saus lalu memakannya. Aku menirunya dan ternyata enak. Namun pedas sekali. Kami berdua menghabiskan ikan tongkol, sisanya aku bawa pulang untuk aku pamer ke orang rumah dengan gaya yang diajarkan Andrew padaku.
Di perjalanan Andrew sempat katakan,
“ Kalau Val bisa buat mba’ Oci bahagia, Andrew juga ikut bahagia. Yang pasti mba’ Oci tetep punya waktu untuk temenin Andrew jalan-jalan ya. “ aku tersenyum bahagia mendengar celotehannya, aku fikir dengan ketampanan dan popularitasnya sekarang ini Andrew bisa memilih dan meminta satu gadis cantik sempurna dari ribuan yang ngantri untuk Ia jadikan pacarnya. Ternyata tidak, Andrew bukan orang yang seperti itu. Aku semakin mengaguminya, sungguh.
Ponselku berdering kencang. Peerjaanku belum juga selesai. Aku masih harus mengoreksi beberapa kuis mahasiswaku. Nanggung sekali, tapi ponsel itu terus berdering.
“ Hallo “ ucapku ingin segera mengakhiri kebisingan yang mengganggu ketenangan dan konsentrasiku.
Comments
Post a Comment