Sesuatu Untukmu - Part 8
Cerpen
Part 8
Sesuatu Untukmu
Oleh : xiu Ong
Aku memijit keningku lelah, menghadapi Val. Pria muda dengan tingkat emosi yang belum terkontrol. Perasaan itu pasti hanya ketertarikan sesaat saja, aku mengerti. Meneruskan kembali pekerjaanku.
“ Dia meneror aku lagi, “ ujar Val kesal. Rautnya berbicara tentang semua kemarahan yang Ia tahan dihatinya. Wajah dan mata itu sudah tidak seperti aku melihatnya untuk yang pertama kali. Cinta itu hilang. Sudah tak terbaca lagi dimatanya. Aku tersenyum kecil, miris, pahit dan merasa menang.
“ Apa maumu sekarang. “ ujarku tanpa basa-basi, wajah itu terkejut. Aku terus menatapnya lurus, tanpa menoleh sedikitpun.
“ Aku gak bisa memilih antara sahabat dan pacarku. “ ujar Val bingung,
“ Tapi, aku gak mau persahabatanku hancur, lebih baik.... “
“ Terima kasih,... “ ucapku antusias dan beranjak dari dudukku. Val kaget dan ikut bangkit dari duduknya.
“ Oci, dengar aku dulu. “ pintanya, Ia menahan lenganku. Aku melepaskannya. Menatapnya tajam sebagai wanita dewasa bermartabat dan punya harga diri tinggi.
“ Aku juga, tidak bisa berjalan dengan pikiranmu yang tidak bisa membedakan arti persahabatan dan cinta. Siapa sahabat, siapa pacar?? “ Val terhenyak mendengar ucapanku.
“ Kamu salah menilai Andrew, juga aku. Val, bahkan kamu salah menilai diri kamu sendiri. Terima kasih untuk semuanya, bye. “ ujarku dan tak lagi menghentikan langkahku yang panjang dan mantap.
Ekor mataku menangkap penyesalan diwajahnya, tapi aku sudah jauh, sangat jauh. Untuk bisa kembali Ia gapai dengan keegoisannya dan kekerdilannya berfikir. Aku tidak menyesal dan tidak akan pernah menyesal.
Farel mulai mengangkat wajahnya, kali ini benar-benar basah dan sembab. Tak percuma Ia datang jam 23.00 malam untuk mengganggu tidurku, kalau air mata yang Ia keluarkan cukup banyak. Dengan begitu perasaan ibaku jauh lebih berperan untuk menhadapi kesusahan hatinya. Aku memberikan sekotak tisu padanya. Ia mengambilnya beberapa lembar dan mengeringkan sisa-sisa air matanya disudut-sudut kelopak matanya yang masih berair.
“ I will get married. “ ucap Farel terbata-bata. Aku membelalakkan mataku tak percaya dengan pendengaranku barusan. Aku berusaha mencerna dengan kecerdasanku. Aku memincingkan mataku meminta penjelasan Farel dari arti ucapannya.
“ Jodohan papi mami. “ terang Farel lagi. Aku mengangguk mengerti duduk persoalan yang dihadapi Farel ternyata sangat serius.
Comments
Post a Comment